Minggu, 19 Mei 2019

AVENGERS END GAME REVIEW

Infinity Wars menghadirkan perang di tanah Titan, planet Thanos. Tony Stark alias Iron Man adalah pencetusnya. Ia bernegoisasi dengan Dr. Strange untuk membawa perang tersebut ke tempat Thanos.

Hasilnya? Avengers kalah. Frustasi, lelah secara fisik dan emosi adalah tumbalnya. Semuanya hanya bisa meratapi apa yang sudah mereka lakukan. Steve Rogers (Captain America), Natasha Romanoff, Thor, Dr. Banner (Hulk), Rhode (War Machine) tak bisa berbuat banyak, selain mempertahankan keras kepala mereka untuk bisa mengalahkan Thanos.

Kepulangan Tony Stark (Iron Man) dan Nebula setelah pertempuran melawan Thanos tak berarti apa-apa. Tony sudah terlalu lelah. Ia hanya bisa berharap untuk hidup lagi di kesempatan kedua.

Ada satu jalan yang mereka temukan. Nebula membisikkan sesuatu pada superhero Avengers. Sayangnya, bisikan ini tidak berarti apa-apa, bahkan ketika Thor sudah mengayunkan palu Mjonirnya.

Sayangnya, rasa cinta dan kekeluargaan para superhero Avengers jauh lebih besar dari itu semua. Mereka ingin mengembalikan teman-teman dan keluarga kecil bernama Avengers.
 

Sedikit penggalan diatas merupakan sinopsis dari penggalan film Avengers End Game karya Marvel. Saya tidak terlalu begitu paham tentang film ini karena tidak menonton sequel avenger yang dihadirkan sebelumnya. Tetapi kali ini saya akan mencoba merangkum review/ulasan mengenai film dari Avenger: End Game ini.
Saya menonton film ini di CGV Palembang Trade Center Pada Selasa,30 April 2019 bersama kedua teman saya.
Dari awal, emosi penonton sudah dimainkan. Dibiarkan mengalir begitu saja, mencoba untuk menerka apa yang sedang terjadi selanjutnya. Di bagian pertengahan, lagi-lagi emosi penonton dimainkan.

Kuncinya adalah Quantum Realm dan cairan milik Hank Pym yang masih dijaga dengan baik oleh Ant-Man. Ops, tunggu dulu. Ini baru pertengahan., Di bagian akhir, lagi-lagi, Marvel memberikan suguhan emosi yang benar-benar menghajar penonton.

Seperti yang sudah disampaikan oleh pemeran Tony Stark (Iron Man), yaitu Robert Downey Jr. delapan menit terakhir dari Avengers: Endgame adalah bagian terbaik dari keseluruhan film ini.



Thor tak banyak bicara, sampai akhirnya ia menggendut. Natasha Romanoff, pembunuh berdarah dingin pun sampai bisa menitikkan air mata.

Tony Stark? Ini lebih gila lagi. Terkatung-katung di luar angkasa selama 22 hari membuat ia benar-benar frustasi. Tony masih saja melempar lelucon-leluconnya yang satir.

Namun, kelopak matanya sudah tertutup rapat. Bahunya sudah letih, sebagai isyarat ia akan berhenti untuk berperang. Tubuhnya kurus ceking. Frustasi, sampai-sampai ia enggan lagi berbicara tentang apa yang sudah dilakukannya.



Tony Stark bukanlah pemimpin Avengers. Ia hanya penggerak dan tangan kanan dari Captain America. Bukan juga pemimpin S.H.I.E.L.D. Ia hanya bagian kecil dari apa yang pernah dikerjakan oleh Ayahnya, Howard Stark pada masa perang.

Namun, Tony Stark adalah seorang yang punya hati. Ia rela melakukan apa saja dibalik rasa frustasinya. Seorang pemimpin sejati yang punya satu kesempatan membunuh Thanos dalam skala 1: 14.000.000 seperti yang dilakukan Dr. Strange.

Begitulah Ulasan mengenai film Avenger yang dalam penayangannya mampu membuat emosi, haru, sampai rasa kekeluargaan pun dimunculkan dalam film yang bertemakan superhero ini.

CERITA TENTANG PEMBUATAN FILM PENDEK




Sehubungan dengan kegiatan CAFIFEST 2019. Kami para mahasiwa/I berlomba-lomba untuk menghasilkan sebuah karya berupa film pendek yang nanti nya akan diperlombakan.
 
Untuk kali ini saya sendiri berperan sebagai sutradara dan menyutradarai film bergenre Drama Romantis yang berjudul Love is Change
Bercerita tentang Miko seorang Mahasiswa yang nakal dan pemalas  jatuh cinta dengan seorang mahasiswi yang bernama Yola. Awalnya 2 kepribadian yang sangat berbeda ini dipertemukan secara tidak sengaja hingga akhirnya saling jatuh cinta. 

Pembuatan film dilakukan selama 3 hari . 2 hari dilakukan untuk take film dan 1 hari dilakukan untuk proses editing.

Kelompok kami memegang peranan penting masing-masing yakni saya sendiri berperan sebagai sutradara, Kerrick sebagai editor + kameraman, serta Roy berperan sebagai Produser, tak lupa Yola dan Miko merupakan salah satu pemeran dari film ini.