Infinity Wars menghadirkan perang di tanah Titan, planet Thanos. Tony Stark
alias Iron Man adalah pencetusnya. Ia bernegoisasi dengan Dr. Strange untuk
membawa perang tersebut ke tempat Thanos.
Hasilnya? Avengers kalah. Frustasi, lelah secara fisik dan emosi adalah
tumbalnya. Semuanya hanya bisa meratapi apa yang sudah mereka lakukan. Steve
Rogers (Captain America), Natasha Romanoff, Thor, Dr. Banner (Hulk), Rhode (War
Machine) tak bisa berbuat banyak, selain mempertahankan keras kepala mereka
untuk bisa mengalahkan Thanos.
Kepulangan Tony Stark (Iron Man) dan Nebula setelah pertempuran melawan
Thanos tak berarti apa-apa. Tony sudah terlalu lelah. Ia hanya bisa berharap
untuk hidup lagi di kesempatan kedua.
Ada satu jalan yang mereka temukan. Nebula membisikkan sesuatu pada superhero
Avengers. Sayangnya, bisikan ini tidak berarti apa-apa, bahkan ketika Thor
sudah mengayunkan palu Mjonirnya.
Sayangnya, rasa cinta dan kekeluargaan para superhero Avengers jauh
lebih besar dari itu semua. Mereka ingin mengembalikan teman-teman dan keluarga
kecil bernama Avengers.
Sedikit penggalan diatas merupakan sinopsis dari penggalan film Avengers End Game karya Marvel. Saya tidak terlalu begitu paham tentang film ini karena tidak menonton sequel avenger yang dihadirkan sebelumnya. Tetapi kali ini saya akan mencoba merangkum review/ulasan mengenai film dari Avenger: End Game ini.
Saya menonton film ini di CGV Palembang Trade Center Pada Selasa,30 April 2019 bersama kedua teman saya.
Dari awal, emosi penonton sudah dimainkan. Dibiarkan mengalir begitu saja,
mencoba untuk menerka apa yang sedang terjadi selanjutnya. Di bagian
pertengahan, lagi-lagi emosi penonton dimainkan.
Kuncinya adalah Quantum Realm dan cairan milik Hank Pym yang masih dijaga
dengan baik oleh Ant-Man.
Ops, tunggu dulu. Ini baru pertengahan., Di
bagian akhir, lagi-lagi, Marvel memberikan suguhan emosi yang benar-benar
menghajar penonton.
Seperti yang sudah disampaikan oleh pemeran Tony Stark (Iron Man), yaitu
Robert Downey Jr. delapan menit terakhir dari
Avengers: Endgame adalah
bagian terbaik dari keseluruhan film ini.
Thor tak banyak bicara, sampai akhirnya ia menggendut. Natasha Romanoff,
pembunuh berdarah dingin pun sampai bisa menitikkan air mata.
Tony Stark? Ini lebih gila lagi. Terkatung-katung di luar angkasa selama 22
hari membuat ia benar-benar frustasi. Tony masih saja melempar
lelucon-leluconnya yang satir.
Namun, kelopak matanya sudah tertutup rapat. Bahunya sudah letih, sebagai
isyarat ia akan berhenti untuk berperang. Tubuhnya kurus ceking. Frustasi,
sampai-sampai ia enggan lagi berbicara tentang apa yang sudah dilakukannya.
Tony Stark bukanlah pemimpin Avengers. Ia hanya penggerak dan tangan kanan
dari Captain America. Bukan juga pemimpin S.H.I.E.L.D. Ia hanya bagian kecil
dari apa yang pernah dikerjakan oleh Ayahnya, Howard Stark pada masa perang.
Namun, Tony Stark adalah seorang yang punya hati. Ia rela melakukan apa saja
dibalik rasa frustasinya. Seorang pemimpin sejati yang punya satu kesempatan
membunuh Thanos dalam skala 1: 14.000.000 seperti yang dilakukan Dr. Strange.
Begitulah Ulasan mengenai film Avenger yang dalam penayangannya mampu membuat emosi, haru, sampai rasa kekeluargaan pun dimunculkan dalam film yang bertemakan superhero ini.